Selama ini perang AI selalu identik dengan Amerika dan China. Nama seperti Nvidia, OpenAI, Google, hingga Alibaba terus mendominasi pembicaraan dunia teknologi. Tapi sekarang situasinya mulai berubah. Eropa yang selama bertahun-tahun dianggap tertinggal dalam industri teknologi global mulai ikut menikmati ledakan AI.
Analis Financial Times mengungkap antusiasme investor terhadap AI kini mulai menyebar ke Eropa. Dampaknya langsung terasa di pasar saham. Perusahaan seperti STMicroelectronics dan Nokia mengalami lonjakan besar karena dianggap punya hubungan langsung dengan pembangunan infrastruktur AI global.
Fenomena ini menarik karena Eropa selama bertahun-tahun kalah jauh dari Wall Street dalam urusan perusahaan teknologi besar. Namun ledakan AI mengubah arah permainan. Investor kini bukan hanya mencari perusahaan pembuat chatbot, tetapi juga perusahaan yang menyediakan “senjata perang” AI seperti chip, jaringan data center, sistem optik, dan infrastruktur cloud.
Saham STMicroelectronics bahkan dilaporkan melonjak lebih dari dua kali lipat sepanjang 2026. Sementara Nokia yang dulu sering dianggap “perusahaan lama” kini kembali dilirik karena perannya dalam jaringan data dan infrastruktur cloud AI.
AI ternyata tidak hanya menguntungkan perusahaan software seperti OpenAI atau Google. Di balik ledakan AI generatif, dunia membutuhkan pusat data raksasa, jaringan internet super cepat, chip semikonduktor, hingga sistem pendingin dan energi dalam jumlah besar. Karena itulah perusahaan infrastruktur mulai ikut kebanjiran perhatian investor global.
Banyak analis menyebut situasi ini sebagai “gold rush AI” versi Eropa. Masalahnya, jumlah perusahaan AI besar di Eropa masih sangat sedikit dibanding Amerika dan Asia. Akibatnya, saham-saham yang punya hubungan dengan AI langsung menjadi rebutan pasar.
CEO Nokia bahkan membandingkan ledakan AI saat ini dengan boom internet tahun 1990-an. Menurutnya, meskipun ada risiko bubble, transformasi AI tetap akan menjadi perubahan jangka panjang yang mengubah ekonomi global.
Kini perang AI bukan lagi sekadar soal siapa punya chatbot paling pintar. Persaingan mulai bergeser ke siapa yang menguasai infrastruktur AI dunia. Dan untuk pertama kalinya setelah lama tertinggal, Eropa mulai menemukan momentum baru di tengah ledakan teknologi terbesar dekade ini.