Perusahaan teknologi Jepang, GMO Internet, tengah menyelidiki kebocoran data setelah peretas yang diduga bertanggung jawab memublikasikan informasi yang diklaim berkaitan dengan perusahaan dan pelanggannya.
Insiden ini melibatkan layanan Onamae.com Desktop Cloud, yang menyediakan desktop virtual untuk para trader keuangan. GMO mendeteksi akses tanpa izin dan menghentikan layanan tersebut pada 21 Oktober 2026. Perusahaan juga menerima tuntutan sekitar 8 miliar yen, atau sekitar US$50 juta.
Pada 27 Oktober, GMO mengonfirmasi bahwa pihak yang diduga sebagai pelaku telah memublikasikan informasi. Namun, perusahaan masih memverifikasi keaslian dan isi data tersebut. Karena itu, belum dapat dipastikan berapa banyak data pelanggan yang benar-benar terekspos. GMO menyebut sekitar 27.000 server mungkin terdampak.
GMO meminta pelanggan mengganti kata sandi dan berhati-hati terhadap pesan atau panggilan yang menyamar sebagai perusahaan. Perusahaan juga mengumpulkan perangkat pelanggan untuk diperiksa dan bekerja sama dengan pihak berwenang.
Hingga pembaruan 27 Oktober, GMO menyatakan belum mengonfirmasi adanya serangan ransomware. Perusahaan juga menolak memenuhi tuntutan pelaku karena pembayaran tidak menjamin data yang dicuri akan dihapus atau tidak disalahgunakan.
Kasus ini menunjukkan bahwa dampak serangan siber tidak berhenti ketika akses ilegal terdeteksi. Publikasi data yang belum terverifikasi, potensi penyalahgunaan akun, dan risiko penipuan lanjutan dapat memperbesar kerugian pelanggan.
Catatan penting: informasi yang dipublikasikan peretas masih dalam proses verifikasi. Jumlah server yang berpotensi terdampak juga bukan berarti seluruhnya telah dipastikan mengalami kebocoran data.
Sumber: TechCrunch | Pernyataan resmi GMO Internet