Ledakan industri AI membawa investasi besar ke Arizona, Amerika Serikat. Namun, di negara bagian yang sudah lama menghadapi keterbatasan air, ekspansi pusat data kini memicu perlawanan warga.
Dalam laporan The Verge pada 29 Oktober 2026, Gaby Del Valle menyoroti perbedaan respons masyarakat terhadap dua sektor teknologi: pabrik chip dan pusat data berskala besar.
Kompleks manufaktur TSMC di Phoenix menggunakan hampir 5 juta galon air per hari. Meski konsumsi airnya besar, perusahaan itu mendapat dukungan luas karena menciptakan ribuan lapangan kerja, menarik investasi, dan mendaur ulang sebagian besar air yang digunakan. Sekitar 60–65% air yang masuk ke fasilitas pertamanya didaur ulang.
Situasinya berbeda dengan proyek pusat data baru. Warga mempertanyakan manfaat ekonomi jangka panjangnya, kebutuhan air dan listriknya, serta kurangnya transparansi dalam proses pengembangan. Di Tucson, proyek Project Blue memicu penolakan warga di tengah kekhawatiran terhadap cadangan air dan biaya utilitas.
Tekanan ini terjadi ketika Arizona menghadapi masalah air yang sudah berlangsung puluhan tahun. Sungai Colorado, yang memasok lebih dari sepertiga kebutuhan air negara bagian itu, menghadapi pengurangan alokasi. Air tanah juga terus terkuras lebih cepat daripada kemampuan alam untuk mengisinya kembali.
Namun, teknologi bukan satu-satunya penyebab krisis. Pertanian, terutama produksi alfalfa, masih menggunakan air jauh lebih banyak dibandingkan industri teknologi. Persoalannya adalah bagaimana menyeimbangkan kebutuhan air masyarakat dengan ekspansi industri baru.
Pertanyaan utamanya bukan sekadar apakah AI membutuhkan air, tetapi siapa yang menanggung biayanya ketika sumber daya semakin terbatas.
Sumber: The Verge