Microsoft akhirnya mengungkap angka pendapatan kuartalan Azure secara langsung. Layanan cloud tersebut menghasilkan US$33,2 miliar pada Juli hingga September 2026, naik 48% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Menurut laporan TechCrunch, angka ini melampaui perkiraan analis sebesar US$32,3 miliar. Azure juga menyumbang sekitar 36% dari total pendapatan Microsoft yang mencapai US$92,3 miliar pada kuartal tersebut.
Pengungkapan ini penting karena Microsoft sebelumnya lebih sering menyampaikan tingkat pertumbuhan Azure, bukan pendapatan kuartalannya secara spesifik. Kini, investor dapat membandingkan kinerja Azure dengan para pesaingnya secara lebih langsung.
Pada kuartal yang sama, Google Cloud mencatat pendapatan US$30,7 miliar. Meski Azure masih sedikit lebih besar dalam nilai pendapatan, Google Cloud tumbuh sekitar 103% secara tahunan, lebih cepat daripada pertumbuhan Azure sebesar 48%. Perlu dicatat, Google Cloud juga mencakup layanan produktivitas Workspace, sehingga cakupan bisnisnya tidak sepenuhnya sama dengan Azure.
Permintaan komputasi untuk AI menjadi salah satu pendorong bisnis cloud. Namun, tidak semua pendapatan Azure berasal dari AI; perusahaan juga menjalankan aplikasi bisnis, layanan perangkat lunak, dan beban kerja cloud tradisional di platform tersebut.
Angka ini memperjelas skala bisnis cloud Microsoft. Persaingan berikutnya bukan hanya soal siapa yang tumbuh paling cepat, tetapi siapa yang mampu memenuhi permintaan komputasi sambil menjaga biaya infrastruktur tetap terkendali.
Sumber: TechCrunch