Seorang administrator di University of Kentucky mendapat akomodasi kerja yang memungkinkannya tidak menggunakan AI di tempat kerja. Yang membuat kasus ini unik, ia memperoleh perlindungan tersebut sebagai seorang Humanis nonteistik, bukan karena menganut agama yang percaya kepada Tuhan.
Menurut laporan TechCrunch pada 29 Oktober 2026, David Durman berpendapat bahwa penggunaan AI bertentangan dengan keyakinannya tentang penalaran manusia, kreativitas, dan tanggung jawab moral. Ia mengajukan permohonan melalui American Humanist Association dan memperoleh akomodasi berdasarkan Title VII dalam hukum ketenagakerjaan Amerika Serikat.
Bukan Bebas dari AI Sepenuhnya
Akomodasi tersebut tidak berarti Durman sepenuhnya terlepas dari AI. Ia tetap harus menghadiri rapat dengan rekan kerja yang menggunakan AI, serta memberikan materi yang nantinya dapat diproses menggunakan AI bila diperlukan.
University of Kentucky menyatakan permintaan itu dinilai berdasarkan tugas pekerjaannya dan dianggap tidak mengganggu fungsi utama posisinya. Akomodasi juga dapat ditinjau kembali jika tanggung jawab pekerjaannya berubah.
Apa Arti Kasus Ini?
Kasus ini menjadi sorotan karena menunjukkan bahwa perlindungan keagamaan di AS dapat mencakup keyakinan nonteistik yang dipegang secara sungguh-sungguh, selama memenuhi ketentuan hukum dan tidak menimbulkan beban berlebihan bagi pemberi kerja.
Namun, ini bukan berarti setiap pekerja otomatis berhak menolak AI. Setiap permohonan tetap dinilai secara individual, dan mekanisme ini berasal dari hukum ketenagakerjaan Amerika Serikat, bukan menjadi aturan umum di negara lain.
Sumber: TechCrunch | Tom’s Hardware