Tyler Shultz, mantan karyawan Theranos yang membantu membongkar skandal perusahaan teknologi kesehatan tersebut, memperingatkan bahwa ledakan investasi AI menciptakan peluang besar bagi penipuan di industri teknologi.
Dalam wawancara yang dikutip TechCrunch pada 30 Oktober 2026, Shultz menilai investor semakin sulit membedakan teknologi AI yang benar-benar inovatif dengan produk yang hanya membungkus model AI yang sudah tersedia.
Ia mengingatkan bahwa kondisi ini dapat dimanfaatkan oleh perusahaan yang ingin menjual janji besar tanpa memiliki teknologi unik atau kemampuan seperti yang mereka klaim.
“Jika ingin menipu orang, ini adalah kesempatan besar untuk melakukannya,” demikian peringatan Shultz.
Pelajaran dari Skandal Theranos
Shultz pernah bekerja di Theranos, startup milik Elizabeth Holmes yang mengklaim mampu melakukan berbagai tes darah menggunakan sampel sangat kecil. Teknologi tersebut ternyata tidak bekerja sebagaimana dipromosikan.
Theranos sempat mencapai valuasi sekitar US$10 miliar sebelum praktik penipuannya terungkap. Holmes kemudian dinyatakan bersalah atas penipuan terhadap investor.
Menurut Shultz, pelajaran dari kasus tersebut adalah investor tidak boleh hanya mengandalkan presentasi, reputasi pendiri, atau besarnya valuasi. Mereka harus memeriksa bukti teknis dan memastikan produk benar-benar bekerja.
AI Membuat Verifikasi Lebih Sulit
Masalahnya, teknologi AI memang lebih sulit dievaluasi oleh investor nonteknis. Produk yang terlihat canggih bisa saja hanya menggunakan model pihak ketiga dengan sedikit tambahan fitur.
Shultz tidak menuduh perusahaan AI tertentu melakukan penipuan. Peringatannya lebih berfokus pada lemahnya proses pemeriksaan teknologi di tengah antusiasme pasar.
Di tengah perlombaan investasi AI, pertanyaan terpenting bukan seberapa besar janji sebuah startup, melainkan apakah teknologi yang dijual benar-benar mampu membuktikannya.
Sumber: TechCrunch | The San Francisco Standard