• About
  • Privacy Policy
  • Terms
0
0
0
0
Artıfısıal Official Blog Artıfısıal Official Blog
  • AI News
    • Apple
    • Anthropic
    • OpenAI
    • Meta
    • Microsoft
    • Amazon
    • Google
    • xAI
  • AI Startup Charts
  • AI Community
  • AI NEWSLETTER
  • AI Events
  • AI News
  • Newsletter

Eks-Wistleblower Theranos Peringatkan Ledakan AI Bisa Jadi Ladang Penipuan Baru

  • Rifad
Total
0
Shares
0
0
0

Tyler Shultz, mantan karyawan Theranos yang membantu membongkar skandal perusahaan teknologi kesehatan tersebut, memperingatkan bahwa ledakan investasi AI menciptakan peluang besar bagi penipuan di industri teknologi.

Dalam wawancara yang dikutip TechCrunch pada 30 Oktober 2026, Shultz menilai investor semakin sulit membedakan teknologi AI yang benar-benar inovatif dengan produk yang hanya membungkus model AI yang sudah tersedia.

Ia mengingatkan bahwa kondisi ini dapat dimanfaatkan oleh perusahaan yang ingin menjual janji besar tanpa memiliki teknologi unik atau kemampuan seperti yang mereka klaim.

“Jika ingin menipu orang, ini adalah kesempatan besar untuk melakukannya,” demikian peringatan Shultz.

Pelajaran dari Skandal Theranos

Shultz pernah bekerja di Theranos, startup milik Elizabeth Holmes yang mengklaim mampu melakukan berbagai tes darah menggunakan sampel sangat kecil. Teknologi tersebut ternyata tidak bekerja sebagaimana dipromosikan.

Theranos sempat mencapai valuasi sekitar US$10 miliar sebelum praktik penipuannya terungkap. Holmes kemudian dinyatakan bersalah atas penipuan terhadap investor.

Menurut Shultz, pelajaran dari kasus tersebut adalah investor tidak boleh hanya mengandalkan presentasi, reputasi pendiri, atau besarnya valuasi. Mereka harus memeriksa bukti teknis dan memastikan produk benar-benar bekerja.

AI Membuat Verifikasi Lebih Sulit

Masalahnya, teknologi AI memang lebih sulit dievaluasi oleh investor nonteknis. Produk yang terlihat canggih bisa saja hanya menggunakan model pihak ketiga dengan sedikit tambahan fitur.

Shultz tidak menuduh perusahaan AI tertentu melakukan penipuan. Peringatannya lebih berfokus pada lemahnya proses pemeriksaan teknologi di tengah antusiasme pasar.

Di tengah perlombaan investasi AI, pertanyaan terpenting bukan seberapa besar janji sebuah startup, melainkan apakah teknologi yang dijual benar-benar mampu membuktikannya.

Sumber: TechCrunch | The San Francisco Standard

Total
0
Shares
Share 0
Tweet 0
Pin it 0
Related Topics
  • Artificial Intelligence
Rifad

Previous Article
  • AI News
  • By The AI
  • Google

Google Uji Pusat Data AI di Luar Angkasa, Satelitnya Berhasil Menulis Puisi

  • Rifad
View Post
Next Article
  • AI News
  • By The AI

Karyawan AS Dapat Izin Menolak Pakai AI di Kantor, Meski Tidak Percaya Tuhan

  • Rifad
View Post
You May Also Like
View Post
  • AI News
  • By The AI
  • Google

Mantan Direktur AI Meta Bangun Ndoc, Penantang Baru Microsoft Office dan Google Workspace

  • Rifad
  • October 31, 2026
View Post
  • AI News

GMO Internet Jepang Hadapi Kebocoran Data, 27.000 Server Diduga Terdampak

  • Rifad
  • October 31, 2026
View Post
  • AI News
  • By The AI

General Compute Raih US$100 Juta, Taruhan pada Chip AI di Luar Nvidia

  • Rifad
  • October 31, 2026
View Post
  • AI News
  • By The AI

AI dan Data Center Memperparah Krisis Air Arizona

  • Rifad
  • October 31, 2026
View Post
  • AI News

Bos Instagram Prediksi Penolakan terhadap AI Akan Semakin Besar

  • Rifad
  • October 31, 2026
View Post
  • AI News

Serangan Siber Kembali Mengguncang Industri Keuangan Korea Selatan

  • Rifad
  • October 31, 2026
View Post
  • AI News
  • By The AI
  • Google

Google Perluas Iklan di AI Search ke Pasar Global saat Pertumbuhan Iklan Melambat

  • Rifad
  • October 31, 2026
View Post
  • AI News

Microsoft Ungkap Pendapatan Azure: US$33,2 Miliar dalam Tiga Bulan

  • Rifad
  • October 31, 2026
Artıfısıal Official Blog Artıfısıal Official Blog
  • About
  • Privacy Policy
  • Terms

Input your search keywords and press Enter.