Paul Scharre adalah salah satu tokoh paling berpengaruh dalam diskusi global tentang kecerdasan buatan (AI) dan sistem senjata otonom. Sebagai Executive Vice President dan Director of Studies di Center for a New American Security (CNAS), Scharre telah memainkan peran krusial dalam membentuk kebijakan AI militer Amerika Serikat dan mempengaruhi perdebatan internasional tentang masa depan perang. TIME magazine bahkan menamainya sebagai salah satu dari “100 orang paling berpengaruh dalam AI” pada tahun 2023.
Latar Belakang Militer: Dari Medan Perang ke Pentagon
Pengalaman Combat yang Membentuk Visi
Perjalanan Paul Scharre dimulai dari pengalaman langsung di medan perang sebagai special operations reconnaissance team leader di 3rd Ranger Battalion Angkatan Darat Amerika Serikat. Ia menyelesaikan beberapa tur tugas di Irak dan Afghanistan, lulus dari Army’s Airborne, Ranger, dan Sniper Schools, dan merupakan honor graduate dari 75th Ranger Regiment’s Ranger Indoctrination Program.
Pengalaman yang mengubah perspektifnya tentang teknologi militer terjadi pada tahun 2007 di Irak, ketika timnya menemukan bom pinggir jalan. “Saya mengharapkan teknisi penjinak bom keluar dengan pakaian bom besar, seperti dalam film The Hurt Locker. Namun sebaliknya, mereka menggelindingkan robot kecil untuk menjinakkan bom. Dan bola lampu menyala di kepala saya,” kenangnya.
Peran Strategis di Pentagon
Dari tahun 2008-2013, Scharre bekerja di Office of the Secretary of Defense (OSD) di mana ia memainkan peran utama dalam menetapkan kebijakan sistem tak berawak dan otonom serta teknologi senjata baru. Ia memimpin kelompok kerja DoD yang menyusun DoD Directive 3000.09, yang menetapkan kebijakan departemen tentang otonomi dalam sistem senjata. Scharre juga terlibat dalam penyusunan panduan kebijakan dalam Defense Strategic Guidance 2012, Quadrennial Defense Review 2010, dan panduan perencanaan tingkat sekretaris.
Karya-Karya Monumental dalam AI dan Perang Modern
“Army of None”: Pelopor Diskusi Senjata Otonom
Buku pertama Scharre, “Army of None: Autonomous Weapons and the Future of War” (2018), menjadi karya revolusioner yang mengeksplorasi implikasi dari memberikan mesin otoritas atas keputusan hidup dan mati. Buku ini memenangkan Colby Award 2019, dipilih sebagai salah satu dari lima buku terbaik Bill Gates tahun 2018, dan dinobatkan oleh The Economist sebagai salah satu dari lima buku terbaik untuk memahami perang modern.
Dalam buku ini, Scharre mengkaji munculnya senjata otonom, gerakan untuk melarangnya, dan isu-isu hukum serta etika seputar penggunaannya. Ia menyoroti teknologi AI dalam teknologi militer, mencakup dekade inovasi dari torpedo pencari suara Jerman dalam Perang Dunia II hingga senjata siber otonom, kapal robot pemburu kapal selam, dan tentara tank robot.
“Four Battlegrounds”: Strategi AI Global
Buku kedua Scharre, “Four Battlegrounds: Power in the Age of Artificial Intelligence” (2023), menganalisis empat elemen kunci yang mendefinisikan persaingan AI global: data, daya komputasi, talenta, dan institusi. Buku ini menjelaskan bagaimana AS dapat mengungguli China dalam pertempuran supremasi teknologi, dengan peringatan bahwa “jika Amerika Serikat bergerak terlalu lambat, ia bisa menyerahkan dominasi militer dalam teknologi baru yang kritis kepada China yang sedang bangkit dan revisionis”.
Scharre mengeksplorasi bagaimana sistem AI sudah menemukan strategi baru melalui jutaan simulasi permainan perang, mengembangkan taktik tempur yang lebih baik dari manusia mana pun, melacak miliaran orang menggunakan biometrik, dan secara halus mengontrol informasi dengan algoritma rahasia. Ia mengunjungi “Tim Nasional” perusahaan AI terkemuka China untuk menunjukkan sinergi yang mengerikan antara pemerintah China, sektor swasta, dan negara pengawasan.
Kontribusi dalam Kebijakan dan Etika AI
Peran dalam Pembentukan Kebijakan AI Militer
Scharre memainkan peran krusial dalam membentuk pendekatan Amerika Serikat terhadap AI militer. Ia memimpin kelompok kerja DoD yang menyusun Directive 3000.09, menetapkan kebijakan departemen tentang otonomi dalam sistem senjata. Pengalamannya di Pentagon membuatnya memahami baik sisi teknologi maupun realitas kebijakan dalam implementasi AI militer.
Perspektif Etika dalam Senjata Otonom
Scharre sering merefleksikan pengalamannya di medan perang untuk mengilustrasikan kompleksitas etika dalam senjata otonom. Ia menceritakan misi di perbatasan Afghanistan-Pakistan di mana timnya menemukan seorang gadis kecil yang melaporkan posisi mereka kepada Taliban. Meskipun aturan perang akan mengklasifikasikannya sebagai kombatan musuh yang sah untuk ditembak, Scharre dan timnya memutuskan tidak menembak karena itu adalah hal yang salah untuk dilakukan.
“Bagaimana Anda akan merancang robot untuk mengetahui perbedaan antara apa yang legal dan apa yang benar? Dan bagaimana Anda bahkan akan mulai menuliskan aturan-aturan itu sebelumnya?” tanya Scharre. Ini menggambarkan tantangan fundamental dalam mengembangkan senjata otonom yang dapat membuat keputusan etis.
Visi tentang Masa Depan AI dan Keamanan Global
Pandangan tentang Persaingan AI Global
Scharre berpendapat bahwa persaingan AI antara negara-negara demokratis dan otoriter sudah berlangsung dengan taruhan yang sangat tinggi: siapa pun yang menang akan menulis aturan internasional abad berikutnya. Ia menekankan bahwa otoritarian telah menemukan cara untuk menggunakan AI untuk keuntungan maksimal mereka, dan demokrat harus segera melakukan hal yang sama atau berisiko kalah dalam pertarungan.
Kekhawatiran tentang Perkembangan AI yang Cepat
Ketika ditanya bagaimana kemajuan AI yang cepat membuatnya merasa, Scharre menjawab, “Saya tidak tahu mengapa lebih banyak orang tidak khawatir”. Ia khawatir tentang sistem AI yang kuat jatuh ke tangan musuh AS atau aktor jahat, tetapi juga tentang kecelakaan yang melibatkan AI yang kuat.
Scharre percaya bahwa bahaya dari AI bukanlah bahaya yang dimiliki fiksi ilmiah memperingatkan kita. “Kita tidak perlu takut robot bangkit untuk membuang tuan manusia mereka, atau setidaknya tidak dalam waktu dekat. Bahaya dari AI hari ini datang dari orang-orang yang menggunakan teknologi secara jahat atau ceroboh, menyebabkan kerugian bagi orang lain”.
Prestasi dan Pengakuan
Penghargaan dan Publikasi
Scharre telah menerbitkan artikel di The New York Times, The Wall Street Journal, CNN, TIME, Foreign Policy, Foreign Affairs, Politico, dan USA Today. Ia telah muncul di CNN, MSNBC, Fox News, NPR, dan BBC, serta bersaksi di hadapan Komite Layanan Bersenjata DPR dan Senat.
Latar Belakang Akademis
Scharre memegang gelar PhD dalam war studies dari King’s College London dan MA dalam political economy and public policy serta BS dalam fisika dari Washington University di St. Louis. Disertasi doktoralnya mengkaji lebih dari 50 studi kasus sistem militer dan siber otonom yang digunakan atau sedang dikembangkan di seluruh dunia.
Kesimpulan: Visioner yang Menjembatani Teknologi dan Kemanusiaan
Paul Scharre mewakili perpaduan unik antara pengalaman tempur langsung, keahlian kebijakan tingkat tinggi, dan pemahaman mendalam tentang teknologi AI. Perjalanannya dari medan perang Afghanistan hingga koridor Pentagon, dan kemudian ke posisinya sebagai salah satu pemikir terdepan tentang AI dan keamanan nasional, membuatnya menjadi suara yang sangat berpengaruh dalam perdebatan global tentang masa depan perang dan teknologi.
Dengan perspektif yang seimbang antara peluang dan risiko AI, Scharre terus memainkan peran penting dalam membentuk bagaimana dunia mendekati teknologi yang berpotensi mengubah paradigma ini. Karyanya tidak hanya menginformasikan pembuat kebijakan dan militer, tetapi juga membantu masyarakat luas memahami implikasi dari revolusi AI yang sedang berlangsung.
Sering merasa overwhelmed dengan berita AI yang terlalu banyak? I hear you. Subscribe ke Artifisial Newsletter dan dapatkan informasi teknologi AI terkini agar kamu tetap up-to-date tanpa buang waktu.