Washington, 18 April 2026.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan China di bidang kecerdasan buatan (AI) semakin memanas. Kongres AS kini sedang mempertimbangkan undang-undang baru yang dapat menjatuhkan sanksi keras terhadap perusahaan-perusahaan AI China yang dituduh “menjiplak” model AI buatan perusahaan Amerika.
Rancangan undang-undang yang diusulkan oleh Anggota DPR Partai Republik Bill Huizenga (Michigan) ini bernama Deterring American AI Model Theft Act. Undang-undang ini akan memerintahkan pemerintah AS untuk mengidentifikasi entitas di China dan Rusia yang menggunakan teknik “query-and-copy” atau “distillation” secara tidak sah terhadap model AI Amerika. Teknik ini melibatkan pengiriman jutaan pertanyaan (prompt) ke model seperti GPT, Claude, atau Gemini untuk mengekstrak kemampuan model tersebut, kemudian membangun versi tiruan yang lebih murah.
Jika disahkan, pelanggar bisa masuk ke daftar hitam Commerce Department (Entity List) dan menghadapi sanksi ekonomi darurat berdasarkan undang-undang tahun 1977. Tujuannya jelas: melindungi inovasi Amerika dari “pencurian model AI” yang diyakini merugikan perusahaan AS hingga miliaran dolar per tahun.
Perusahaan China yang Disebut-sebut
Beberapa perusahaan AI China yang paling sering disebut dalam tuduhan ini meliputi:
- DeepSeek
- Moonshot AI
- MiniMax
Ketiga perusahaan ini telah dituduh oleh Anthropic, OpenAI, dan Google melakukan ekstraksi massal kemampuan model mereka. Anthropic bahkan melaporkan bahwa ketiganya menggunakan sekitar 24.000 akun palsu untuk menghasilkan lebih dari 16 juta interaksi dengan model Claude mereka, yang jelas melanggar Terms of Service.
Perusahaan-perusahaan besar China lainnya juga berpotensi menjadi target.
Latar Belakang yang Lebih Luas
Persaingan AI antara AS dan China semakin sengit. Perusahaan Amerika seperti OpenAI, Anthropic, dan Google kini saling berbagi informasi ancaman melalui Frontier Model Forum untuk mendeteksi dan mencegah upaya “distillation” ini. Mereka menganggap praktik ini bukan hanya pelanggaran hak cipta, melainkan bentuk spionase industri yang mengancam keunggulan teknologi dan keamanan nasional AS.
Anggota DPR dari Komite Pemilihan tentang Kompetisi Strategis AS-China menekankan bahwa perusahaan China “tidak boleh lolos begitu saja setelah mencuri inovasi paling canggih Amerika”.
Apa yang Akan Terjadi Selanjutnya?
Rancangan undang-undang ini dijadwalkan dibahas oleh House Foreign Affairs Committee minggu depan. Jika lolos, ini akan menjadi salah satu langkah konkret terbaru dalam upaya AS membatasi akses China terhadap teknologi AI frontier, setelah sebelumnya ada pembatasan ekspor chip Nvidia dan sanksi terhadap perusahaan teknologi China.
Kasus ini menunjukkan bahwa perang AI global tidak lagi hanya soal siapa yang lebih pintar mengembangkan model, tetapi juga soal siapa yang bisa melindungi model tersebut dari penyalinan massal.
Sumber utama: Bloomberg (16 April 2026), PYMNTS, Straits Times, dan pernyataan resmi Anthropic serta Komite DPR AS.
Berita ini masih berkembang. Apakah undang-undang ini akan disahkan dengan cepat, atau justru memicu respons balik dari Beijing? Kita pantau bersama perkembangannya di arena AI global yang semakin kompetitif ini.