Saham pemasok perangkat keras AI di Asia tertekan akibat kekhawatiran biaya pinjaman dan keberlanjutan belanja infrastruktur pusat data.
Demam kecerdasan buatan (AI) telah mengangkat saham produsen chip dan komponen elektronik di Asia. Namun, reli tersebut kini menghadapi ujian baru: apakah perusahaan teknologi masih mampu membiayai pembangunan infrastruktur AI dalam skala besar?
Menurut laporan Bloomberg yang dikutip sejumlah media pada 18 Oktober 2026, aksi jual saham teknologi Amerika Serikat mulai menjalar ke rantai pasok perangkat keras AI Asia. Investor semakin memperhatikan tingginya biaya pendanaan dan kemampuan perusahaan memperoleh keuntungan dari investasi besar pada pusat data.
Saham pemasok AI ikut terpukul
Pekan lalu, keranjang saham perangkat keras AI Asia yang dipantau Goldman Sachs turun 11%, penurunan mingguan terbesar sejak pertengahan Juli.
Sejumlah perusahaan mengalami koreksi tajam. Nan Ya Plastics, produsen material papan sirkuit, turun 12% dari rekor tertingginya. Unimicron Technology merosot 14% dalam sepekan, sedangkan Samsung Electro-Mechanics turun 23%.
Tekanan ini terjadi meskipun Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) memberikan prospek pendapatan yang positif. Artinya, kekhawatiran investor bukan hanya soal permintaan chip, tetapi juga besarnya biaya untuk membangun infrastruktur yang akan menggunakan chip tersebut.
Biaya pinjaman menjadi risiko baru
Pembangunan pusat data membutuhkan modal besar. Ketika biaya pinjaman meningkat, perusahaan teknologi dan operator pusat data berbasis komputasi awan dapat menghadapi kesulitan mempertahankan rencana ekspansi.
Kekhawatiran tersebut semakin terlihat pada CoreWeave, penyedia infrastruktur AI yang mengandalkan pendanaan untuk memperluas bisnisnya. Obligasinya mengalami tekanan, sementara saham perusahaan turun sekitar 25% selama sepekan hingga 16 Oktober.
Jika pendanaan menjadi lebih mahal atau proyek pusat data tertunda, dampaknya dapat menjalar ke produsen chip, memori, komponen elektronik, dan peralatan manufaktur di Asia.
TSMC, Samsung Electronics, dan SK Hynix termasuk perusahaan yang memiliki keterkaitan erat dengan ekspansi komputasi AI. Pemasok komponen yang berada lebih jauh dalam rantai pasok bahkan dapat menghadapi ketidakpastian lebih besar mengenai waktu dan jumlah pesanan.
Apakah ledakan AI mulai berakhir?
Belum ada bukti kuat dalam laporan tersebut bahwa tekanan pendanaan sudah menyebabkan penurunan pesanan chip secara luas. Sebagian investor juga masih meyakini bahwa permintaan AI tetap kuat.
Namun, pasar mulai menguji asumsi yang selama ini menopang reli saham AI: bahwa investasi infrastruktur yang sangat besar pada akhirnya akan menghasilkan pendapatan dan keuntungan yang sepadan.
Jika belanja pusat data terus tumbuh, pemasok perangkat keras dapat tetap diuntungkan. Sebaliknya, apabila perusahaan menunda proyek karena biaya pendanaan atau pengembalian investasi yang tidak sesuai harapan, valuasi saham pemasok bisa menghadapi tekanan lanjutan.
Bagi industri AI, tantangan berikutnya bukan hanya membangun komputasi yang lebih besar, tetapi juga memastikan investasi tersebut dapat dibiayai dan menghasilkan keuntungan.
Sumber: Bloomberg · The Straits Times